Selasa, 13 Maret 2012

Mengantar ke Gerbang Kehidupan

Jamal D. Rahman
SAMPAI DI SINI

mungkin terlalu lama aku mengantarmu
hingga jejak-jejak itu hilang kembali
sementara tikas yang kita cari telah
menjelma gelombang : mengantarkan
buih ke matahari, dan di sana
bersama buih itu ia kembali
ke lautan, danau, atau anak sungai

sampai di sini saja, awan juga tak selalu
diantarkan gelombang pada batu-batu

1990.

Sering kita bertanya, sanggupkah manusia hidup dalam kesendiriannya? Mandiri? Tanpa pertolongan orang lain?
Mungkin saja. Tanpa, kadang ada juga kenyataan, adanya orang yang punya ketergantungan pada lainnya. Entah karena ketidaktahuannya, atau ketidakberaniannya.
Untuk itu, sering kita dengar, hidup ini membutuhkan panduan, butuh ditemani, butuh diajari, butuh bimbingan, dan butuh pula diantar.
Atas alasan kasih-sayang, bahkan ada pengantar suka-rela yang terus menerus menemani dan mengantar, sampai ke akhir tujuan.

Puisi "Sampai Di Sini" karya Jamal D. Rahman menarik, karena ia menceritakan keberanian yang lain. Yakni, keberanian untuk memutuskan sampai di sini saja aku mengantarmu. Karena mungkin terlalu lama mengantarmu juga tidak baik, karena jejak-jejak itu juga hilang kembali. Sementara perjalanan itu sendiri sesungguhnya telah mengajari banyak hal, bahkan setidaknya juga perubahan itu sendiri.
Sayangnya memang, belum tentu orang yang diantar mengerti atau memahami semuanya itu. Ketergantungannya kepada orang lain, telah membutakan kepekaan.
Padahal, dalam perjalanan, tikas itu telah berubah menjadi gelombang, dan hukum alam seharusnya telah mengajarinya juga untuk berani menjalani perubahan itu sendiri. Jika tidak, sampai kapan?
Bukankah awan itu sendiri juga tidak diantarkan gelombang pada batu-batu, bukankah semuanya itu akan terjadi dengan sendirinya?
Lihatlah titik air itu sendiri, ia berangkat dari buih-buih gelombang, ia disedot naik oleh matahari, dan kemudian menjadi awan untuk kelak kembali turun ke telaga, ke sungai, dan kembali ke laut pula?
Mengembalikan kehukumalam adalah membebaskan diri dari ikatan-ikatan. Hidup menjadi bayang-bayang, atau tak berani melangkah sendiri.
Padahal, semakin tak adanya keberanian itu, tidak akan pernah muncul kesempatan untuk tumbuh. Kaki yang tak bisa menapak tegak sendiri, tidak akan pernah mempunyai kekuatan yang sejati untuk melangkah.
Para orangtua, dan juga para senior, karena alasan kasih-sayang, sering juga tidak tega untuk melepaskan yuniornya. Hingga sampai tua pun, si yunior masih saja didampingi, dijaga, dibela-bela.
Sementara kita tahu, batu karang yang kukuh itu, karena ia sendiri telah menunjukkan jati dirinya, yakni kemampuannya untuk menerima aneka tamparan gelombang.
Manusia-manusia yang tangguh, bukanlah manusia yang tak pernah jatuh. Tapi manusia yang tangguh ialah ketika jatuh maka ia berani untuk bangkit kembali. Seberapa pun nilai kejatuhannya. 
Sebagaimana nyanyian grup band "The New Kid's On The Block's", perjalanan itu adalah step by step. Sebagaimana ujar Khonghucu, perjalanan batu ialah dimulai dari satu batu yang pertama, ke batu berikutnya. Perjalanan seribu langkah, dimulai dari satu langkah. Dan di antara langkah-langkah itu, bisa jadi bukan hanya satu-dua, melainkan mungkin berkali-kali terjatuh.
Tapi justeru itulah yang akan menguatkan.

0 komentar:

Posting Komentar