Rabu, 29 Februari 2012

Jika Cinta Kemudian Tinggal Kenangan Pahit

Timur Sinar Suprabana
DI MANA KINI AKU DI ENGKAU, KEKASIHKU?

cuaca tibatiba menua
padahal hari belum benar senja
bungabunga mendadak hilang warna
padahal hari masih penuh rona
di mana kini aku di engkau, kekasihku?
kucari aku di hampir tiap lubangpori badanmu
kucari aku di hampir tiap akarbulu tubuhmu
kucari aku di hampir tiap sel dalam dirimu
yang kusua melulu Sunyi hariku sendiri
dan di sela Senyap kulihat lenyap mengertap
di mana kini aku di engkau, kekasihku?
apakah aku telah kau tenggelamkan di umpluk bir
hitamku
apakah aku telah kau benamkan di abu cerutuku
apakah aku telah kau kelabukan di warna biru lukisanku
apakah aku telah kau larung demi agar hidupmu tak
murung
apakah aku telah sepenuhnya kau tenung mari di jantung
di mana Kini aku di engkau, kekasihku?
katakan padaku
biar aku ke Sana
agar kangen, kemesraan, cinta dan bahkan kehidupan
tak jadi siasia di dalam kefanaan
.....

21.34
28 12 2009
muntilan


Adakah cinta itu manis? Tanyakan kepada mereka yang putus cinta. Mungkin jawabnya, tak ada kepahitan yang melebihi kepahitan cinta.

Bagi yang mengalami manisnya cinta, sudah barang tentu sulit menjawab bahwa cinta itu sesuatu yang jahat, sesuatu yang membuat nelangsa, atau mungkin membuat kita tidak dapat tidur nyenyak hingga bahkan muntah darah.

Selasa, 28 Februari 2012

Dongeng Dogol : Demi Bangsa dan Negara

Alkisah, setelah rapat konsultasi antara DPR dan KPK, muncullah BBM dari ketua fraksi pada salah seorang anggota DPR, yang berasal dari Luar Jawa. Isinya, minta Apel Malang untuk donasi bencana alam di beberapa daerah di Indonesia Timur.

Sang Anggota DPR pun membalas, "Demi bangsa dan negara, saya pasti menyumbang!"

Kematian sebagai Tanda Kehidupan

Dorothea Rosa Herliany
NYANYIAN BUNGKAM

di dalam peti tak terdengar lagi
suara mengaduhmu
hanya tinggal ranjang
tanpa sepi
jendela tanpa rupa hari-hari
namun di luar tidur, perjalanan hampir
usai
mengekalkan sunyi

lalu dalam terjaga
ada dinding menyekat
mimpi kita
--pandanganmu berapa jauh
memisahkan rindu
dari kesendirian dunia

1987

Bagi seorang penyair, tema kematian adalah tema kehidupan. Dari peristiwa kematian itu, selalu saja bukan fakta kematian yang disodorkan, melainkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan.
Karena dalam puisi, kematian bukanlah peristiwa semata, melainkan kematian ialah segugusan persoalan. Ia bukan akhir dari suatu persoalan, sebagaimana kita baca dalam novel atau cerpen, yang sering menaruh kematian di akhir cerita.

"BELAJAR DARI SERATUS PUISI DARI SERATUS PENYAIR"

Bukan buku tentang teori sastra, tapi mengajak kita belajar kebijaksanaan hidup dari puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Indonesia. Mulai dari puisi karya R.A. Kartini, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Toeti Heraty Noerhadi, Joko Pinurba, Dorothea Rosa Herliany, Yvone de Fretes, dan angkatan fesbuker sekarang ini.

Buku ini diterbitkan secara indie, tidak dijual di toko buku umum, namun mempromosikannya lewat online, atau penjualan langsung, dan menyisihkan 10% dari hasil penjualan buku untuk membantu kegiatan sosial lembaga Jaya Anggada Foundations yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak down-syndrome di Indonesia, khususnya Yogyakarta.

Buku berukuran 11 x 18 Cm., dengan tebal 320 halaman, ini dijual dengan harga Rp 50.000 per-eksemplar, sudah termasuk ongkos kirim di seluruh wilayah Indonesia.

Buku ini ditulis oleh Sunardian Wirodono dan diterbitkan oleh :
ChitChat Publisher Yogyakarta,
Jl. KRT Pringgodiningrat 40, Pangukan,  Tridadi,
Sleman, Yogyakarta 55511

Jika berminat, bisa sms/telp ke 087 888 624 921 atau
email ke : chitchatpublisher@ymail.com