Hendro SiswanggonoKATAKANLAH
katakanlah sepimu, bumi akan menyanyikanmu
katakanlah mimpimu, bumi akan membujukmu
katakanlah rindumu, bumi akan menghiburmu
katakanlah dukamu, bumi akan diam mendengarmu
karangmenjangan, 1972
Namun juga tak bisa dipungkiri, manusia juga sering berada dalam situasi kesendiriannya. Tak ada teman, tak ada saudara, tak ada orang lain. Tak ada yang mau mengerti dirinya. Dan ia dalam kesendiriannya, kesepiannya, kesunyiannya.
Kita sering berada dalam situasi seperti itu. Bahkan, ketika kita sedang dalam keramaian, dalam banyak orang, dalam banyak sahabat. Mereka tak memahami apa yang kita inginkan, tak mengerti apa yang kita maksudkan. Pembicaraan tidak ketemu. Dan semuanya hanya kosong.
Kita berada dalam situasi hopeless, loneliness. Benar-benar sendirian. Dan nelangsa. Ngungun.
Maka baiklah engkau undur diri. Mengambil jarak dengan semuanya itu. Kadang kita memang membutuhkan hal itu. Berjarak dengan semua hal. Dengan menyendiri, kita akan bertemu lebih akrab, intens, dengan diri kita sendiri. Kita bisa lebih bermuka-muka, dan terlibat dalam percakapan yang akrab, yang intim.
Hendro Siswanggono, menuliskan puisi berjudul "Katakanlah", justeru kepada sunyi itu sendiri. Yakni, kepada alam semesta. Kepada sepi, kepada mimpi, kepada rindu, dan kepada dukamu sendiri.
Untuk apa? Bukan untuk sekedar melepaskan beban, bukan untuk melepaskan permasalahan, namun justeru kita akan bisa rasakan, segala pertanyaan-pertanyaan kita tadi akan merangsang jawaban-jawaban yang muncul dari pergulatan pemikiran kita sendiri.
Ketika kita menyampaikan rasa sepi itu, mungkin dunia ini, bumi di mana kita berpijak ini, akan memberikan penghiburannya. Bagaimana kita ternyata tidak sendirian. Bagaimana ternyata di luar diri kita, ada begitu meriahnya kehidupan, dengan segala problematikanya yang tak kalah rumit dan kompleks.
Kehidupan juga akan memberikan perenungannya pada kita, bagaimana mimpi juga belum tentu menyelesaikan masalah, karena kenyataanlah yang harus dihadapi, dinikmati, dijalani.
Demikian juga segala rindu dendam dan duka, mesti kita lepaskan satu-satu. Bahwa demikianlah hidup, demikianlah dunia. Di dalamnya terkandung banyak permasalahan dan persoalan.
Bumi kehidupan yang kita pijak, akan memberikan banyak jawaban, bahwa semuanya itu memang sudah pada ghalibnya. Demikianlah hidup. Ia bukan untuk dihindari. Ia mesti dihadapi.
Persoalan manusia hidup ialah menghadapi kehidupan itu sendiri. Mengatasi kehidupan ialah dengan menjalaninya. Dan itu hanya mungkin dengan cara satu persatu, langkah demi langkah. Tak ada loncatan dan keajaiban di sana.
Dalam dialog intens dengan diri kita sendiri itu kita akan mengerti, bahwa semuanya memang akan sangat tergantung pada diri kita sendiri. Tak ada yang bisa menolong diri kita, kecuali diri kita sendiri.
Segala macam motivator, penasehat ahli, konsultan, tak akan pernah ada manfaat dan gunanya, jika di dalam diri kita sendiri tak tercerahkan, tergerakkan, oleh semua kata-kata yang tampak indah dan penuh inspirasi itu.
Kenapa? Karena pada dasarnya, kita sendiri sudah mempunyai cukup banyak bekal. Kita sudah menyimpan begitu banyak kata, pengertian, ilmu pengetahuan, bahkan segala macam strategi dan taktik. Namun apa yang menggerakkan diri kita untuk melakukan semuanya itu?
Kita hanya butuh kerendahan hati untuk mau mengakui mengenai segala sesuatu yang berkait dengan persoalan-persoalan di luar diri kita. Kita hanya butuh mengakui, bagaimana kenyataan-kenyataan hidup itu melingkungi kita. Kita hanya memerlukan kesadaran, bahwa demikianlah yang mesti terjadi.
Dan kita tidak mungkin melampauinya, sekiranya kita hanya berdiam diri serta menunggu. Maka, renungkanlah semua kejadian di sekeliling kita, kenyataan pahit di dalam diri kita. Bumi akan mendengarkanmu, untuk kemudian kembali mengatakan padamu, lantas apa kehendakmu?
0 komentar:
Posting Komentar