Rabu, 29 Februari 2012

Jika Cinta Kemudian Tinggal Kenangan Pahit

Timur Sinar Suprabana
DI MANA KINI AKU DI ENGKAU, KEKASIHKU?

cuaca tibatiba menua
padahal hari belum benar senja
bungabunga mendadak hilang warna
padahal hari masih penuh rona
di mana kini aku di engkau, kekasihku?
kucari aku di hampir tiap lubangpori badanmu
kucari aku di hampir tiap akarbulu tubuhmu
kucari aku di hampir tiap sel dalam dirimu
yang kusua melulu Sunyi hariku sendiri
dan di sela Senyap kulihat lenyap mengertap
di mana kini aku di engkau, kekasihku?
apakah aku telah kau tenggelamkan di umpluk bir
hitamku
apakah aku telah kau benamkan di abu cerutuku
apakah aku telah kau kelabukan di warna biru lukisanku
apakah aku telah kau larung demi agar hidupmu tak
murung
apakah aku telah sepenuhnya kau tenung mari di jantung
di mana Kini aku di engkau, kekasihku?
katakan padaku
biar aku ke Sana
agar kangen, kemesraan, cinta dan bahkan kehidupan
tak jadi siasia di dalam kefanaan
.....

21.34
28 12 2009
muntilan


Adakah cinta itu manis? Tanyakan kepada mereka yang putus cinta. Mungkin jawabnya, tak ada kepahitan yang melebihi kepahitan cinta.

Bagi yang mengalami manisnya cinta, sudah barang tentu sulit menjawab bahwa cinta itu sesuatu yang jahat, sesuatu yang membuat nelangsa, atau mungkin membuat kita tidak dapat tidur nyenyak hingga bahkan muntah darah.

Puisi "Di Mana Kini Aku di Engkau, Kekasihku?" yang ditulis oleh Timur Sinar Suprabana ini, menceritakan mengenai cinta yang berakhir, karena engkau dalam puisi ini, menurut aku lyrik, tidak diketahui tempatnya. Repotnya, pertanyaannya bukan "di mana kamu kini berada", melainkan "di mana kini aku, di engkau, kekasihku?" Sangat ngarep.com, bahasa para fesbuker.

Karena pertanyaan itu mengandung pertanyaan afirmatif, apakah aku masih berada di harimu, atau apakah engkau sudah sama melupakan aku, wahai, kekasihku?
Sebab, oleh di aku lyrik sudah mencari-cari di mana dirinya pada si "engkau kekasihku" itu. Apakah ada di pori-pori kulitnya, akar bulu tubuh, setiap sel. Karena dari semua yang dicarinya itu, yang ditemu kemudian hanyalah sunyi hatiku sendiri. Hanya kesia-siaan. Betapa sunyi dan kasihannya tentu. 

Bahkan sampai kemudian aku lyrik terus bertanya-tanya, lantas di mana terletak dirinya, di dalam si "engkau kekasihku" itu. Apakah pada busa bir hitam (yang mungkin sering disantap sang aku lyrik), atau di abu cerutu, pada sapuan kuas lukisan, atau benar-benar si aku ini sudah diberantas tuntas sampai ke akar-akarnya tanpa sisa, sampai tujuh turunan seperti anak turun para angota PKI dibantai Orba?

Pengharapan akan cinta, adalah pengharapan hidup bagi manusia. Karena cinta tentu saja bukan hanya memberikan kebahagiaan, melainkan juga kenyamanan, keamanan, dan kemungkinan-kemungkinan untuk tidak hidup dalam kesia-siaan. Dalam bahasa Syahrini, cinta tentu adalah yang 'alhamdulillah sangat sesuatu', sesuatu banget.

Cinta atas apa pun dan siapa pun. Karena, entah itu bernama gadis atau pria tampan dalam memori, atau Tuhan Semesta Alam di pemilik Cinta, engkau si kekasih itu adalah sesuatu yang sangat berarti. Sesuatu yang akan mampu membangkitkan seluruh nilai kehidupan yang selama ini hilang, ketika "engkau kekasihku" itu telah lenyap dalam kehidupanku.

Maka, sebaiknya jangan sia-siakan cinta, hanya karena kita terjebak pada cinta yang lain. Karena antara cinta dan cinta, bukan tak mungkin nilainya tidak sama. Cinta pada si anudan si apa, sering menjadikan kita pemerkosa cinta. Karena makna cinta kita kibuli demikian rupa, sehingga bukan lagi warna keindahan dan kebahagiaan, melainkan kekecewaan yang mendalam. Hingga akhirnya, ketika kita sadar akan makna cinta itu, "engkau kekasihku" juga tidak tahu, sesungguhnya di mana si aku yang mengharap cinta itu. Karena cinta tidak pernah hidup sendirian.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

bahasa aq suka, seperti pujangga. Salam kenal ya. btw pemiliknya cewek ato cowok ya ?

ChitChat mengatakan...

makasih..

kami penerbitan..
yang kamu baca d atas, salah satu isi dari buku kami "Belajar dari Seratus Puisi dari Seratus Penyair"

:)

Posting Komentar