Dorothea Rosa HerlianyNYANYIAN BUNGKAM
di dalam peti tak terdengar lagi
suara mengaduhmu
hanya tinggal ranjang
tanpa sepi
jendela tanpa rupa hari-hari
namun di luar tidur, perjalanan hampir
usai
mengekalkan sunyi
lalu dalam terjaga
ada dinding menyekat
mimpi kita
--pandanganmu berapa jauh
memisahkan rindu
dari kesendirian dunia
1987
Bagi seorang penyair, tema kematian adalah tema kehidupan. Dari peristiwa kematian itu, selalu saja bukan fakta kematian yang disodorkan, melainkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan.
Karena dalam puisi, kematian bukanlah peristiwa semata, melainkan kematian ialah segugusan persoalan. Ia bukan akhir dari suatu persoalan, sebagaimana kita baca dalam novel atau cerpen, yang sering menaruh kematian di akhir cerita.
Moment puitik adalah memulai dari ketika semuanya sudah berakhir. Itulah kenapa kematian sering melahirkan puisi yang bagus, meski bukan berarti ini satu-satunya tema yang menarik.
Meskipun sesungguhnya, akan lebih menarik kalau saja si matilah yang menuliskan tentang puisi kematian itu. Jika saja mampu.
Puisi yang ditulis oleh Dorothea Rosa Herliany ini ditulis untuk seseorang yang mengalami kematian itu.
Betapa kita bisa mengikuti rasa apa yang ada di dalamnya. Yang ada tinggal ranjang sepi, jendela yang bisu dan hanya meninggalkan ruang kosong. Kesunyian menjadi begitu perkasa, menguasai, mengekalkan segala. Seolah jam diam. Tak lagi berdetak.
Lantas?
Puisi yang terhimpun dalam antologi "Matahari yang Mengalir" (Nusa Indah, 1990) ini, mengisyaratkan pada kita, kematian artinya juga sebuah peristiwa yang memotong sebuah hubungan, memisahkan kita dalam ruang aku dan kau. Yang ada kemudian adalah "ruang kita", kita sebagai nilai, nilai yang kekal, ialah kemuliaan-kemuliaan yang ada, yang pernah terjalin, dan tersisa, karena hanya mereka yang bebas ruang dan waktu tak bisa dikuburkan.
Jika begitu, sebelum kematian itu datang, bagaimana kita memuliakan kehidupan itu, dengan cinta kasih, agar yang ditinggalkan pun tiada takut kesunyian.
0 komentar:
Posting Komentar